Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)
Lebih dari satu dekade lalu,
kesepuluh negara-negara ASEAN sepakat untuk membentuk apa yang dinamakan
sebagai konsep Masyarakat Ekonomi Asean, yaitu pasar tunggal di kawasan Asia
Tenggara di akhir 2015 mendatang. Hal ini punya tujuan jelas untuk meningkatkan
daya saing ASEAN serta untuk menyaingi China dan India sebagai kekuatan ekonomi
Asia terkuat saat ini. Dengan dibukanya MEA ini, harapannya pasar tunggal yang
terjadi di Asean memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa termasuk
pekerja atau buruh berkeahlian khusus dengan mudah ke negara-negara di seluruh
Asean sehingga kompetisinya akan semakin ketat. Menurut riset ASEAN, MEA akan
menciptakan 14 juta lapangan pekerjaan baru, dan menurunkan ongkos produksi
10-20%. Ini bagi yang mampu memanfaatkan peluang. Siapakah yang akan memenangi
persaingan, dan siapa yang kalah?
Berikut empat hal yang menjadi fokus MEA pada tahun 2015 :
Berikut empat hal yang menjadi fokus MEA pada tahun 2015 :
- Kesepuluh Negara anggota ASEAN akan dijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dan basis produksi. Dengan terciptanya kesatuan pasar dan basis produksi maka akan membuat arus barang, jasa, investasi, modal dalam jumlah yang besar, dan tenaga kerja ahli menjadi tidak ada hambatan dari Negara satu dan lainnya di kawasan Asia Tenggara.
- MEA akan dibentuk sebagai kawasan
ekonomi dengan tingkat kompetisi yang tinggi dengan kebijakan yang meliputi:
a. Competition policyb. Consumer protectionc. Intellectual Property Rights (IPR),d. Taxation, dane. E-Commerce.
- MEA pun akan dijadikan sebagai kawasan yang memiliki perkembangan ekonomi yang merata, dengan memprioritaskan pada Usaha Kecil Menengah (UKM). Kemampuan daya saing dan dinamisme UKM akan ditingkatkan dengan memfasilitasi akses mereka terhadap informasi terkini, kondisi pasar, pengembangan sumber daya manusia dalam hal peningkatan kemampuan, keuangan, dan teknologi.
- MEA akan diintegrasikan secara penuh terhadap perekonomian global. Dengan membangun sebuah sistem untuk meningkatkan koordinasi terhadap negara-negara anggota. Selain itu, akan ditingkatkan partisipasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara pada jaringan pasokan global melalui pengembangkan paket bantuan teknis kepada negara-negara anggota ASEAN yang kurang berkembang. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan industri dan produktivitas sehingga tidak hanya terjadi peningkatkan partisipasi mereka pada skala regional namun juga memunculkan inisiatif untuk terintegrasi secara global.
Berbicara tantang
Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) , Indonesia bukannya tak
siap dengan kondisi ini, berbagai usaha sudah diupayakan agar Indonesia ‘siap’
menghadapi tantangan global, diantaranya sejumlah perguruan tinggi Indonesia
sudah sangat berupaya menyiapkan lulusannya agar mampu bersaing dalam kompetisi
ketat tenaga kerja Asean. Banyak pihak optimis bahwa tenaga kerja Indonesia tak
kalah jika dibandingkan dengan tenaga asing. Kesulitan kecil yang mungkin masih
menjadi hambatan adalah kemampuan bahasa Inggris yang belum terbiasa di
pendidikan Indonesia dan mental pekerja Indonesia yang dianggap masih mental
“penumpang” bukan mental “driver” atau seorang pemimpin.
Indonesia menyiapkan
diri menghadapi MEA dengan menjalankan tiga hal:
- Percepatan peningkatan kompetensi dan daya saing
- Percepatan sertifikasi profesi tenaga kerja.
- Pengendalian tenaga kerja asing.
Selain itu beberapa hal yang dapat
dilakukan untuk menghadapi MEA pada akhir tahun 2015 ini, antara lain:
- Mengubah mindset konsumtif menjadi produktif. Mengingat cukup tinggi tingkat konsumtivitas masyarakat Indonesia, menjadi produktif tentunya akan mengurangi pengeluaran dan memperbesar pemasukan bagi Indonesia.
- Mengubah mindset pegawai menjadi entrepreneur (pengusaha) sehingga dharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru.
- Meningkatkan daya saing sumber daya manusia, karena jika sumber daya manusia memiliki jiwa kompetitif yang tinggi dan didukung dengan kualitas keemampuan yang baik tentu akan membawa pada kemajuan bangsa.
- Meningkatkan daya saing produk yang akan berpengaruh pada tingkat ketertarikan konsumen pada produk yang dihasilkan tentunya dengan kualitas terjamin dna harga terjangkau.
- Keanekaragaman dan peningkatan nilai tambah bahan baku dari sumber daya alam yang melimpah menjadi produk yang dapat diekspor.
- Mempersiapkan lulusan perguruan tinggi yang mampu berkompetisi minimal di tingkat ASEAN dan memiliki semangat yang tinggi.
Mengenai bidang
pertanian, Indonesia memang harus kiat
lagi berusaha dan mengevaluasi untuk menghadapi MEA akhir tahun ini. Salah satu
pembicara dalam seminar nasional yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa
Agroteknologi UMY, pak Roedhy Poerwanto mengatakan dalam menghadapi MEA 2015,
Indonesia harus belajar ke belakang, yaitu ASEAN China Free Trade Area (ACFTA).
Dimana ACFTA ini bertujuan untuk meliberalisasi secara progresif dan
meningkatkan perdagangan barang dan jasa antar ASEAN dan Tiongkok. Salah satu
program dari ACFTA adalah Early Harvest Program yang menurunkan tarif komoditas sayur-sayuran dan
buah-buahan, sehingga sayur-sayuran dan buah-buahan Indonesia yang diekspor ke
Tiongkok menurunkan harganya, dan juga sebaliknya. Pada awalnya ini sebenarnya
adalah kesempatan bagi Indonesia, dimana standar kualitas Tiongkok lebih ringan
dibanding negara lain sehingga Indonesia berpotensi mengambil keuntungan dari
hal ini. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Barang-barang dari Tiongkok
lebih membanjiri pasar Indonesia daripada barang Indonesia membanjiri Tiongkok.
Dan dalam praktiknya, ada beberapa komoditas pertania Indonesia yang dihambat
oleh pertanian Tiongkok untuk masuk di negaranya. Belajar dari ACFTA, Indonesia
harus berhati-hati, karena MEA adalah bentuk liberalisasi pasar ASEAN,
jelasnya.
Juga
masalah konsumsi padi Indonesia. Indonesia menduduki peringkat ketiga dalam
produksi padi yang dikalahkan oleh India
dan Tiongkok. Kenapa ini bisa terjadi? “Karena kita makan nasi terlalu banyak,
mau tidak mau kita harus mengurangi konsumsi nasi dan menggantinya dengan
makanan lain, tetapi harus lokal.” Jelas kembali pak Roedhy Poerwanto.
Menurut Prof. Dr. Ir.
Masyhuri selaku ketua PERHEPI Komda DIY, Jika dibandingkan dengan Negara ASEAN
lainnya, sektor ekonomi Indonesia cukup kalah, terutama pada sektor pertanian.
Contohnya saja di Hanoi, Vietnam, produktifitas pertanian di sana tiga kali
lipat lebih maju dari pertanian di Indonesia. Ekspor produk pertanian Indonesia
ke ASEAN selama 5 tahun terakhir ini belum menunjukkan perkembangan yang
signifikan dibanding ekspor ke negara tujuan non ASEAN. Karena Indonesia masih
terpusat pada dua negara ASEAN untuk dijadikan negara tujuan utama ekspor
produk pertaniannya, yaitu Malaysia dan Singapura,” jelasnya. Hal inilah yang
kemudian menurut Prof. Masyhuri menjadi tugas bersama bagi pemerintah dan
rakyat Indonesia. Pertanian harus menjadi perhatian khusus Pemerintah
Indonesia dalam menghadapi MEA ini.
Sumber dan referensi :
Aksi Cepat Tanggap: 4 Hal yang Harus Anda Ketahui tentang Masyarakat Ekonomi Asean; 2015 [dikunjungi 7 Oktober 2015]; diakses dari: http://blog.act.id
Baskoro, Arya: Peluang, Tantangan, dan Risiko Bagi Indonesia Dengan Adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN; 2015 [dikunjungi 7 Oktober 2015]; diakses dari: http://www.crmsindonesia.org/
BBC Indonesia: Apa yang harus Anda ketahui tentang Masyarakat Ekonomi Asean; 2014 [dikunjungi 7 Oktober 2015]; diakses dari: http://www.bbc.com/indonesia
Direktorat
Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian: Sektor
Pertanian Indonesia Menghadapi MEA 2015; 2015 [dikunjungi 9 Oktober
2015]; diakses dari: http://pphp.pertanian.go.id

0 comments:
Post a Comment