Tuesday, October 13, 2015

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)






Lebih dari satu dekade lalu, kesepuluh negara-negara ASEAN sepakat untuk membentuk apa yang dinamakan sebagai konsep Masyarakat Ekonomi Asean, yaitu pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara di akhir 2015 mendatang. Hal ini punya tujuan jelas untuk meningkatkan daya saing ASEAN serta untuk menyaingi China dan India sebagai kekuatan ekonomi Asia terkuat saat ini. Dengan dibukanya MEA ini, harapannya pasar tunggal yang terjadi di Asean memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa termasuk pekerja atau buruh berkeahlian khusus dengan mudah ke negara-negara di seluruh Asean sehingga kompetisinya akan semakin ketat. Menurut riset ASEAN, MEA akan menciptakan 14 juta lapangan pekerjaan baru, dan menurunkan ongkos produksi 10-20%. Ini bagi yang mampu memanfaatkan peluang. Siapakah yang akan memenangi persaingan, dan siapa yang kalah?

Berikut empat hal yang menjadi fokus MEA pada tahun 2015 :
  1. Kesepuluh Negara anggota ASEAN akan dijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dan basis produksi. Dengan terciptanya kesatuan pasar dan basis produksi maka akan membuat arus barang, jasa, investasi, modal dalam jumlah yang besar, dan tenaga kerja ahli menjadi tidak ada hambatan dari Negara satu dan lainnya di kawasan Asia Tenggara. 
  2. MEA akan dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi yang tinggi dengan kebijakan yang meliputi:
    a.       Competition policy
    b.      Consumer protection
    c.       Intellectual Property Rights (IPR),
    d.      Taxation, dan
    e.       E-Commerce.
  3. MEA pun akan dijadikan sebagai kawasan yang memiliki perkembangan ekonomi yang merata, dengan memprioritaskan pada Usaha Kecil Menengah (UKM). Kemampuan daya saing dan dinamisme UKM akan ditingkatkan dengan memfasilitasi akses mereka terhadap informasi terkini, kondisi pasar, pengembangan sumber daya manusia dalam hal peningkatan kemampuan, keuangan, dan teknologi. 
  4. MEA akan diintegrasikan secara penuh terhadap perekonomian global. Dengan membangun sebuah sistem untuk meningkatkan koordinasi terhadap negara-negara anggota. Selain itu, akan ditingkatkan partisipasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara pada jaringan pasokan global melalui pengembangkan paket bantuan teknis kepada negara-negara anggota ASEAN yang kurang berkembang. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan industri dan produktivitas sehingga tidak hanya terjadi peningkatkan partisipasi mereka pada skala regional namun juga memunculkan inisiatif untuk terintegrasi secara global.
Berbicara tantang Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) , Indonesia bukannya tak siap dengan kondisi ini, berbagai usaha sudah diupayakan agar Indonesia ‘siap’ menghadapi tantangan global, diantaranya sejumlah perguruan tinggi Indonesia sudah sangat berupaya menyiapkan lulusannya agar mampu bersaing dalam kompetisi ketat tenaga kerja Asean. Banyak pihak optimis bahwa tenaga kerja Indonesia tak kalah jika dibandingkan dengan tenaga asing. Kesulitan kecil yang mungkin masih menjadi hambatan adalah kemampuan bahasa Inggris yang belum terbiasa di pendidikan Indonesia dan mental pekerja Indonesia yang dianggap masih mental “penumpang” bukan mental “driver” atau seorang pemimpin.
Indonesia menyiapkan diri menghadapi MEA dengan menjalankan tiga hal:

  1. Percepatan peningkatan kompetensi dan daya saing 
  2. Percepatan sertifikasi profesi tenaga kerja.
  3.  Pengendalian tenaga kerja asing.
Selain itu beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghadapi MEA pada akhir tahun 2015 ini, antara lain:
  1. Mengubah mindset konsumtif menjadi produktif. Mengingat  cukup tinggi tingkat konsumtivitas masyarakat Indonesia, menjadi produktif tentunya akan mengurangi pengeluaran dan memperbesar pemasukan bagi Indonesia.
  2. Mengubah mindset pegawai menjadi entrepreneur (pengusaha) sehingga dharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru.
  3. Meningkatkan daya saing sumber daya manusia, karena jika sumber daya manusia memiliki jiwa kompetitif yang tinggi dan didukung dengan kualitas keemampuan yang baik tentu akan membawa pada kemajuan bangsa.
  4. Meningkatkan daya saing produk yang akan berpengaruh pada tingkat ketertarikan konsumen pada produk yang dihasilkan tentunya dengan kualitas terjamin dna harga terjangkau.
  5. Keanekaragaman dan peningkatan nilai tambah bahan baku dari sumber daya alam yang melimpah menjadi produk yang dapat diekspor.
  6. Mempersiapkan lulusan perguruan tinggi yang mampu berkompetisi minimal di tingkat ASEAN dan memiliki semangat yang tinggi.
Mengenai bidang pertanian, Indonesia  memang harus kiat lagi berusaha dan mengevaluasi untuk menghadapi MEA akhir tahun ini. Salah satu pembicara dalam seminar nasional yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Agroteknologi UMY, pak Roedhy Poerwanto mengatakan dalam menghadapi MEA 2015, Indonesia harus belajar ke belakang, yaitu ASEAN China Free Trade Area (ACFTA). Dimana ACFTA ini bertujuan untuk meliberalisasi secara progresif dan meningkatkan perdagangan barang dan jasa antar ASEAN dan Tiongkok. Salah satu program dari ACFTA adalah Early Harvest Program yang menurunkan  tarif komoditas sayur-sayuran dan buah-buahan, sehingga sayur-sayuran dan buah-buahan Indonesia yang diekspor ke Tiongkok menurunkan harganya, dan juga sebaliknya. Pada awalnya ini sebenarnya adalah kesempatan bagi Indonesia, dimana standar kualitas Tiongkok lebih ringan dibanding negara lain sehingga Indonesia berpotensi mengambil keuntungan dari hal ini. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Barang-barang dari Tiongkok lebih membanjiri pasar Indonesia daripada barang Indonesia membanjiri Tiongkok. Dan dalam praktiknya, ada beberapa komoditas pertania Indonesia yang dihambat oleh pertanian Tiongkok untuk masuk di negaranya. Belajar dari ACFTA, Indonesia harus berhati-hati, karena MEA adalah bentuk liberalisasi pasar ASEAN, jelasnya.
            Juga masalah konsumsi padi Indonesia. Indonesia menduduki peringkat ketiga dalam produksi padi yang dikalahkan  oleh India dan Tiongkok. Kenapa ini bisa terjadi? “Karena kita makan nasi terlalu banyak, mau tidak mau kita harus mengurangi konsumsi nasi dan menggantinya dengan makanan lain, tetapi harus lokal.” Jelas kembali pak Roedhy Poerwanto.
Menurut Prof. Dr. Ir. Masyhuri selaku ketua PERHEPI Komda DIY, Jika dibandingkan dengan Negara ASEAN lainnya, sektor ekonomi Indonesia cukup kalah, terutama pada sektor pertanian. Contohnya saja di Hanoi, Vietnam, produktifitas pertanian di sana tiga kali lipat lebih maju dari pertanian di Indonesia. Ekspor produk pertanian Indonesia ke ASEAN selama 5 tahun terakhir ini belum menunjukkan perkembangan yang signifikan dibanding ekspor ke negara tujuan non ASEAN. Karena Indonesia masih terpusat pada dua negara ASEAN untuk dijadikan negara tujuan utama ekspor produk pertaniannya, yaitu Malaysia dan Singapura,” jelasnya. Hal inilah yang kemudian menurut Prof. Masyhuri menjadi tugas bersama bagi pemerintah dan rakyat Indonesia. Pertanian harus menjadi perhatian khusus Pemerintah Indonesia dalam menghadapi MEA ini.




Sumber dan referensi :

Aksi Cepat Tanggap: 4 Hal yang Harus Anda Ketahui tentang Masyarakat Ekonomi Asean; 2015 [dikunjungi 7 Oktober 2015]; diakses dari: http://blog.act.id

Baskoro, Arya: Peluang, Tantangan, dan Risiko Bagi Indonesia Dengan Adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN; 2015 [dikunjungi 7 Oktober 2015]; diakses dari: http://www.crmsindonesia.org/

BBC Indonesia: Apa yang harus Anda ketahui tentang Masyarakat Ekonomi Asean; 2014 [dikunjungi 7 Oktober 2015]; diakses dari: http://www.bbc.com/indonesia


Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian: Sektor Pertanian Indonesia Menghadapi MEA 2015; 2015 [dikunjungi 9 Oktober 2015]; diakses dari: http://pphp.pertanian.go.id

Nuansa Online: Prospek dan Tantangan Pertanian Indonesia dalam Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015; 2015 [dikunjungi 9 Oktober 2015]; diakses dari: http://nuansa.persmahasiswa.org

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta: Sektor Pertanian Indonesia Belum Siap Hadapi MEA 2015; 2015 [dikunjungi 9 Oktober 2015]; diakses dari: http://www.umy.ac.id

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Blogger templates

Powered by Blogger.

Followers