Potensi Rempah Indonesia untuk Mendunia
Sumber daya alam di Indonesia
sangat berlimpah dan beragam. Semua komoditi berpotensi untuk dikembangkan dan
dipasarkan baik dipasar nasional maupun menjadi komoditas ekspor luar negeri.
Sumber daya alam adalah semua kekayaan alam berupa benda mati atau makhluk
hidup di bumi dan dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan manusia.
Kita patut berbangga ternyata
beberapa produk pertanian dan perkebunan Indonesia sangat mendunia. Ditengah
meluapnya arus impor barang konsumsi dari luar negeri, komoditas pertanian dan
perkebunan Indonesia masih menjadi unggulan di pasar internasional. Berikut di
antaranya :
Indonesia merupaan penghasil kakao
nomor 3 di dunia setelah Pantai Gading da Ghana. Produksinya terus tumbuh rata-rata
3,5% per tahun, pada tahun 2014 pemerintah berkomitmen untuk mengalahkan kedua
negara tersebut untuk menduduki peringkat pertama sebagai penghasil kakao
terbesar di dunia.
2. Kelapa
Sawit
Indonesia menempatkan diri sebagai
produsen minyak sawit mentah terbesar di dunia. Pada tahun 2011 Indonesia
menguasai pasar minyak sawit mentah
sebesar 47% mengungguli Malaysia. Ekspor kelapa sawit mampu menyumbang
devisa Negara sebesar USD 14 miliar per tahun 2010 dan diperkirakan akan teruss
meningkat secara signifikan dari tahun ketahunnya.
3. Rempah-rempah
Indonesia sudah terkeal dengan
rempah-rempahnya sejak dahulu.. Tanaman rempah-rempah yang tumbuh subur di
Indonesia menarik minat bangsa lain untuk menguasainya. Sampai saat ini
Indonesia masih sebagai ekportir utama rempah-rempah di dunia, yang komoditas
diantaranya : Pala, kayu manis, cengkeh dan lada.
Tiga
komoditi diatas tentunya hanya contoh dari sekian banyak sumber daya alam yang
Indonesia milliki. Menteri pertanian mengatakan, sampai saat ini komoditi
rempah-rempah Indonesia masih menjadi unggulan dunia. Menurutnya, untuk
komoditas pala, kayu manis dan cengkeh, Indonesia masih menempati nomor satu di
dunia. Lada sempat menduduki urutan pertama dengan memasok lebih dari 80%
kebutuhan dunia. Namun saat ini lada Indonesia menduduki peringkat tiga dunia.
Indonesia
merupakan negara pemasok 60% kebutuhan pala dunia. Di dunia terdapat dua tipe
minyak pala, yaitu minyak pala Indian Timur (East
Indian) dan minyak pala Indian Barat (West
Indian). Minyak pala Indonesia termasuk minyak pala Indian Timur. Produk
dari pala (biji, fuli dan minyak pala) telah diekspor lebih ke 30 negara.
Potensi pala lahan terbesar ada di Kecamatan Siau Timur seluas 692,34 hektare,
baik yang sudah menghasilkan seluas 566,54 hektare, maupun sisanya 124,81
hektare yang belum menghasilkan.
Pencapaian
dalam upaya memberikan nilai tambah kepada petani serta berdasarkan berbagai
pertimbangan lain seperti tingginya permintaan pasar dunia, harga yang
menjanjikan, dan peran Indonesia sebagai pemasok utama kebutuhan minyak pala
dunia, sudah sepatutnya minyak pala lebih diutamakan sebagai produk ekspor
Sulawesi Utara. Kualitas dari pala Sitaro yang terkenla dengan nama
internasional Siau nutmeg, sangat disukai dan merupakan salah satu yang terbaik
di dunia. Menurut data tahun 2010 lalu, volume ekspor biji pala Sulawesi Utara
mencapai 1.907 ton dengan nilai produksi 21.526 juta dolar AS, sedangkan untuk
fuli volumenya 238 ton dengan nilai produksi 2.1445 juta dolar AS. Sementara
untuk tahun 2010 volume ekspor biji pala hanya 657 ton dengan nilai produksi 7
juta dolar As, sedangkan fuli sekira 238 ton dengan nilai produksi 2,15 juta
dolar AS. Kabupaten Kepulauan Sitaro merupakan salah satu sentra produksi pala
di Indonesia. Produksi dan mutu pala Sitaro tidak kalah saing dengan pala
Maluku utara dan Banda. Kontribusi pala terhadap pendapatan dari sektor
perkebuna Kabupaten Kepulauan Sitaro cukup besar. Diharapkan prospek pala dapat
berkembang dengan baik melihat potensi dan prospek dari produk olahan pala.
Selain
pala, lada juga memiliki posisi yang cukup tinggi permintaannya di pasar
global. Posisinya bahkan dapat disejajarkan dengan ekspor logam mulia kerena
potensinya yang cukup besar. Pada tahun 2015, nilai tanam rempah dunia
diperkirakan mencapai 85,73 miliar dolar AS dengan volume perdagangan 51,67
ribu ton. Pemerintah Indonesia pun menargetkan ekspor tanaman rempah tahun
tersebut sebanyak 7,71 miliar dolar AS.
Sederet
produk tanaman rempah lain juga tengah dipersiapkan untuk komoditas ekspor.
Produk tersebut diantaranya lada, vanilla, pala, kayu manis, cengkeh, kunyit
dan jahe. Di Indonesia sendiri bahan-bahan ini lazim ditemui sebagai bahan baku
industri jamu, farmasi, kosmetik.
Prospek
pemasukan rempah Indonesia ke pasar dunia cukup positif. Hal ini salah satunya
dilihat dari pertumbuhan konsumsi rempah dunia yang mencapai 10,2% tiap
tahunnya. Pada tahun 2010, nilai ekspor rempah-rempah Indonesia mencapai
211,910 juta dolar AS.
Amerika
Serikat masih menjadi tujuan ekspor tanaman rempah terbesar. Seanyak 50% rempah
Indonesia di salurkan ke negara “Paman Sam” ini, sisanya baru ke negara Uni
Eropa. Ekspor rempah ke Amerika Serikat mencapai 121,177 juta dolar AS.
Khusus
untuk tanaman lada, potensi yang besar tidak seiring dengan kemampuan produksi.
Saat ini banyak lahan yang sebelumnya ditanami lada telah beralih fungsi.
Seperti di Bangka Belitung, dimana lahan tanam lada berbah menjadi area
pertambangan. Untuk itu pemerintah akan melakukan upaya untuk meluaskan areal
lahan lada khususnya di wilayah sentra seperti Maluku dan Bangka Belitung.
Selain peluasan lahan lada , Ditjen Perkebunan Kementan jua melakukan
intensifikasi dan rehabilitasi lahan. Total lahan yang direhabilitasi dan
intensifikasi masing-masing mencapai 5.400 hektare. Tahun ini ditargetkan 1.800
hektare tambahan lahan bisa digarap untuk menumbuhkan lada.
PELUANG
Permintaan terhadap komoditas rempah-rempah terus
mengalami pertumbuhan tiap tahunnya. China dan India menguasai pangsa pasar
tersebut terutama untuk komoditas kunyit, jahe, kapulaga dan lada hitam.
Sebagai contoh pemasok lada hita terbesar di pasar UEA (Uni Emirate Arab)
adalah Singapura. Tercatat Sigapura telah melakukan re-ekspor lada hitam hingga
US$123 juta atau ±90 dari total yang diimpor UEA. Dari total nilai impor lada
hitam Singapura sepanjang 2013 itu, Indonesia memasok 32%. Kondisi ini
mengindikasikan bahwa peluang ekspor langsung produk rempah-rempah asal
Indonesia sebetulnya masih sangat terbuka luas. Jika pemerintah fokus maka akan
dipastikan Indonesia akan memimpin pasar global sebagai ekportir rempah dunia.
Sumber:
Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Pertanian: Pengolahan Komoditi Pala Sitaro, Sulawesi
Utara dalam Potensi Pemasaran; 2015 [dikunjungi 11 Oktober 2015];
diakses dari: http://pphp.pertanian.go.id
Republika: Lada dan Pala Unggulan Ekpor Rempah; 2015 [dikunjungi 11 Oktober 2015]; diakses dari: http://www.republika.co.id
Sindonews: Mentan: Komoditi rempah RI masih jadi unggulan dunia; 2015 [dikunjungi 11 Oktober 2015]; diakses dari: http://www.sindonews.com
Bisnis.com: Potensi Rempah Indonesia di Uni Emirat
Arab (UEA), Kekayaan Alam yang Memikat Negara Kaya; 2015 [dikunjungi 11 Oktober
2015]; diakses dari: http://www.bisnis.com
kami siap supplai kebutuhan biji pala & fulli buat eksport..hub (021-59433430/082312278102/087809273705)
ReplyDelete