Tuesday, October 13, 2015

Potensi Rempah Indonesia untuk Mendunia

Sumber daya alam di Indonesia sangat berlimpah dan beragam. Semua komoditi berpotensi untuk dikembangkan dan dipasarkan baik dipasar nasional maupun menjadi komoditas ekspor luar negeri. Sumber daya alam adalah semua kekayaan alam berupa benda mati atau makhluk hidup di bumi dan dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan manusia.
Kita patut berbangga ternyata beberapa produk pertanian dan perkebunan Indonesia sangat mendunia. Ditengah meluapnya arus impor barang konsumsi dari luar negeri, komoditas pertanian dan perkebunan Indonesia masih menjadi unggulan di pasar internasional. Berikut di antaranya :

1.      Kakao
Indonesia merupaan penghasil kakao nomor 3 di dunia setelah Pantai Gading da Ghana. Produksinya terus tumbuh rata-rata 3,5% per tahun, pada tahun 2014 pemerintah berkomitmen untuk mengalahkan kedua negara tersebut untuk menduduki peringkat pertama sebagai penghasil kakao terbesar di dunia.
2.      Kelapa Sawit
Indonesia menempatkan diri sebagai produsen minyak sawit mentah terbesar di dunia. Pada tahun 2011 Indonesia menguasai pasar minyak sawit mentah  sebesar 47% mengungguli Malaysia. Ekspor kelapa sawit mampu menyumbang devisa Negara sebesar USD 14 miliar per tahun 2010 dan diperkirakan akan teruss meningkat secara signifikan dari tahun ketahunnya.
3.      Rempah-rempah
Indonesia sudah terkeal dengan rempah-rempahnya sejak dahulu.. Tanaman rempah-rempah yang tumbuh subur di Indonesia menarik minat bangsa lain untuk menguasainya. Sampai saat ini Indonesia masih sebagai ekportir utama rempah-rempah di dunia, yang komoditas diantaranya : Pala, kayu manis, cengkeh dan lada.
            Tiga komoditi diatas tentunya hanya contoh dari sekian banyak sumber daya alam yang Indonesia milliki. Menteri pertanian mengatakan, sampai saat ini komoditi rempah-rempah Indonesia masih menjadi unggulan dunia. Menurutnya, untuk komoditas pala, kayu manis dan cengkeh, Indonesia masih menempati nomor satu di dunia. Lada sempat menduduki urutan pertama dengan memasok lebih dari 80% kebutuhan dunia. Namun saat ini lada Indonesia menduduki peringkat tiga dunia.
            Indonesia merupakan negara pemasok 60% kebutuhan pala dunia. Di dunia terdapat dua tipe minyak pala, yaitu minyak pala Indian Timur (East Indian) dan minyak pala Indian Barat (West Indian). Minyak pala Indonesia termasuk minyak pala Indian Timur. Produk dari pala (biji, fuli dan minyak pala) telah diekspor lebih ke 30 negara. Potensi pala lahan terbesar ada di Kecamatan Siau Timur seluas 692,34 hektare, baik yang sudah menghasilkan seluas 566,54 hektare, maupun sisanya 124,81 hektare yang belum menghasilkan.
            Pencapaian dalam upaya memberikan nilai tambah kepada petani serta berdasarkan berbagai pertimbangan lain seperti tingginya permintaan pasar dunia, harga yang menjanjikan, dan peran Indonesia sebagai pemasok utama kebutuhan minyak pala dunia, sudah sepatutnya minyak pala lebih diutamakan sebagai produk ekspor Sulawesi Utara. Kualitas dari pala Sitaro yang terkenla dengan nama internasional Siau nutmeg, sangat disukai dan merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Menurut data tahun 2010 lalu, volume ekspor biji pala Sulawesi Utara mencapai 1.907 ton dengan nilai produksi 21.526 juta dolar AS, sedangkan untuk fuli volumenya 238 ton dengan nilai produksi 2.1445 juta dolar AS. Sementara untuk tahun 2010 volume ekspor biji pala hanya 657 ton dengan nilai produksi 7 juta dolar As, sedangkan fuli sekira 238 ton dengan nilai produksi 2,15 juta dolar AS. Kabupaten Kepulauan Sitaro merupakan salah satu sentra produksi pala di Indonesia. Produksi dan mutu pala Sitaro tidak kalah saing dengan pala Maluku utara dan Banda. Kontribusi pala terhadap pendapatan dari sektor perkebuna Kabupaten Kepulauan Sitaro cukup besar. Diharapkan prospek pala dapat berkembang dengan baik melihat potensi dan prospek dari produk olahan pala.
            Selain pala, lada juga memiliki posisi yang cukup tinggi permintaannya di pasar global. Posisinya bahkan dapat disejajarkan dengan ekspor logam mulia kerena potensinya yang cukup besar. Pada tahun 2015, nilai tanam rempah dunia diperkirakan mencapai 85,73 miliar dolar AS dengan volume perdagangan 51,67 ribu ton. Pemerintah Indonesia pun menargetkan ekspor tanaman rempah tahun tersebut sebanyak 7,71 miliar dolar AS.
            Sederet produk tanaman rempah lain juga tengah dipersiapkan untuk komoditas ekspor. Produk tersebut diantaranya lada, vanilla, pala, kayu manis, cengkeh, kunyit dan jahe. Di Indonesia sendiri bahan-bahan ini lazim ditemui sebagai bahan baku industri jamu, farmasi, kosmetik.
            Prospek pemasukan rempah Indonesia ke pasar dunia cukup positif. Hal ini salah satunya dilihat dari pertumbuhan konsumsi rempah dunia yang mencapai 10,2% tiap tahunnya. Pada tahun 2010, nilai ekspor rempah-rempah Indonesia mencapai 211,910 juta dolar AS.
            Amerika Serikat masih menjadi tujuan ekspor tanaman rempah terbesar. Seanyak 50% rempah Indonesia di salurkan ke negara “Paman Sam” ini, sisanya baru ke negara Uni Eropa. Ekspor rempah ke Amerika Serikat mencapai 121,177 juta dolar AS.
            Khusus untuk tanaman lada, potensi yang besar tidak seiring dengan kemampuan produksi. Saat ini banyak lahan yang sebelumnya ditanami lada telah beralih fungsi. Seperti di Bangka Belitung, dimana lahan tanam lada berbah menjadi area pertambangan. Untuk itu pemerintah akan melakukan upaya untuk meluaskan areal lahan lada khususnya di wilayah sentra seperti Maluku dan Bangka Belitung. Selain peluasan lahan lada , Ditjen Perkebunan Kementan jua melakukan intensifikasi dan rehabilitasi lahan. Total lahan yang direhabilitasi dan intensifikasi masing-masing mencapai 5.400 hektare. Tahun ini ditargetkan 1.800 hektare tambahan lahan bisa digarap untuk menumbuhkan lada.
PELUANG
Permintaan terhadap komoditas rempah-rempah terus mengalami pertumbuhan tiap tahunnya. China dan India menguasai pangsa pasar tersebut terutama untuk komoditas kunyit, jahe, kapulaga dan lada hitam. Sebagai contoh pemasok lada hita terbesar di pasar UEA (Uni Emirate Arab) adalah Singapura. Tercatat Sigapura telah melakukan re-ekspor lada hitam hingga US$123 juta atau ±90 dari total yang diimpor UEA. Dari total nilai impor lada hitam Singapura sepanjang 2013 itu, Indonesia memasok 32%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa peluang ekspor langsung produk rempah-rempah asal Indonesia sebetulnya masih sangat terbuka luas. Jika pemerintah fokus maka akan dipastikan Indonesia akan memimpin pasar global sebagai ekportir rempah dunia.

Sumber:
Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian: Pengolahan Komoditi Pala Sitaro, Sulawesi Utara dalam Potensi Pemasaran; 2015 [dikunjungi 11 Oktober 2015]; diakses dari: http://pphp.pertanian.go.id

Republika: Lada dan Pala Unggulan Ekpor Rempah; 2015 [dikunjungi 11 Oktober 2015]; diakses dari: http://www.republika.co.id

Sindonews: Mentan: Komoditi rempah RI masih jadi unggulan dunia; 2015 [dikunjungi 11 Oktober 2015]; diakses dari: http://www.sindonews.com

Bisnis.com: Potensi Rempah Indonesia di Uni Emirat Arab (UEA), Kekayaan Alam yang Memikat Negara Kaya; 2015 [dikunjungi 11 Oktober 2015]; diakses dari: http://www.bisnis.com

1 comment:

  1. kami siap supplai kebutuhan biji pala & fulli buat eksport..hub (021-59433430/082312278102/087809273705)

    ReplyDelete

Popular Posts

Blogger templates

Powered by Blogger.

Followers